Mari Menulis

Begitu banyak fasilitas – fasilitas di dunia maya dewasa ini. Misal Facebook, Twitter, WordPress, dll. Fasilitas – fasilitas tersebut digunakan mulai dari anak – anak sampai pada orang dewasa. Mereka menggunakannya untuk menambah pengalaman, wawasan, teman, dsb. Dan hal yang menjadi fokus utama pada seminar “Mari Menulis” yang dibawakan oleh Prof. Raldi Artono Koestoer adalah bagaimana para pengguna jejaring sosial tersebut dapat memanfaatkan fasilitas – fasilitas tersebut untuk menulis.

Para pengguna fasilitas dunia maya yang memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menulis biasanya disebut sebagai blogger.  Dan mereka biasanya cenderung menumpahkan pikiran, inspirasi, maupun informasi yang mereka miliki melalui jejaring sosial seperti WordPress.

Seperti yang disampaikan oleh Prof. Raldi, idealnya, para pengguna fasilitas dunia maya khususnya para akademisi dapat memanfaatkan fasilitas – fasilitas tersebut untuk menulis layakya blogger. Dengan harapan, para akademisi dapat dengan lihai menumpahkan pikirannya baik secara tertulis maupun lisan. Karena, keahlian menulis sangatlah diperlukan, khususnya di dunia akademis. Kemanapun akademisi berada, mereka harus selalu menyiapkan paper, laporan – laporan, proposal kerja, ataupun hasil penelitian sebagai bentuk hasil karya ataupun sebagai sarana untuk dihargai.

Mengingat hal tersebut, sangatlah disayangkan karena jarangnya para pengguna dunia maya yang menggunakan fasilitas – fasilitas tersebut layaknya para blogger. Sebagian besar pengguna dunia maya menggunakan jejaring sosial hanya sebagai sarana untuk mengungkapkan isi hati ataupun sekedar iseng. Hal ini seaka – akan merefleksikan miskinnya atmosfir akademis di negeri ini.

Karena itu-lah, sudah selayaknya akademisi menjadi ujung tombak dalam penyegaran atmosfir akademis, salah satunya dengan cara menyibukkan dirinya dengan menulis. Disamping menulis juga penting, bukankah menulis adalah kegiatan yang sangat akademis. Ini – lah yang patutnya disayangkan dari para akademisi, khusunya akademisi ilmu eksak,, dimana mereka hanya menyegarkan kemampuan matematika mereka. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Raldi, bahwa setiap manusia memiliki delapan jenis kecerdasan yang bisa dilatih. Antara lain adalah Literatur, Matematika, Visual, Musik, Natural, Interpersonal, Intrapersonal, dan Fisik.

Yang menjadi fokus dalam perbincangan kali ini adalah kecerdasan di dalam bidang literatur. Kecerdasan literatur adalah kecerdasan seseorang dalam menumpahkan pikiran yang dimilikinya melalui tulisan – tulisan formal ataupun informal seperti puisi, sajak, dsb. Dengan mengesampingkan kecerdasan matematika yang sudah selayaknya atau pasti dimiliki oleh setiap akademisi, kecerdasan literatur adalah salah satu kecerdasan terpenting yang dapat membimbing seseorang untuk eksis atau dihargai.

Bahkan, dengan menulis, seseorang dapat mempotensialkan dua kecerdasan lainnya. Yaitu kecerdasan Intrapersonal dan interpersonal.

Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan seseorang dalam berkomunikasi dengan diri sendiri. Kecerdasan ini sangat dibutuhkan oleh para akademisi untuk memberikan solusi – solusi yang tepat, disamping melakukan diskusi. Meskipun berdiskusi dengan sesama akademisi atau rekan kerja merupakan prasyarat utama dalam menyelesaikan permasalahan, bukankah berdiskusi dengan diri sendiri juga merupakan salah satu perihal penting dalam menyelesaikan masalah. Serta dalam berdiskusi, secara logika akal sehat, akan selalu didahului dengan diskusi internal dalam dirinya sendiri sebelum akademisi atau orang tersebut menyampaikan aspirasinya.

Sedangkan kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan ini meliputi gaya bicara, cara pandang orang tersebut terhadap lawan bicara, serta penyikapan dirinya dalam menghadapi berbagai konflik dalam berdiskusi.

Dengan menulis, seseorang akan melatih konsep dan alur pemikiran dirinya. Untuk mendapatkan konsep dan alur pemikiran yang rapih, tentunya mereka harus senantiasa berdiskusi dengan dirinya sendiri (intrapersonal) dalam menumpahkan aspirasinya. Sedangkan kecerdasan interpersonal akan terpenuhi dengan sendirinya pada saat konsep dan alur pemikirannya telah tertata rapi. Hal ini dikarenakan sang penulis akan senantiasa membayangkan siapa dan dalam kondisi apa, ataupun apa status sosial para pembaca mereka kelak, singkat kata, si penulis akan membayangkan ataupun memposisikan dirinya seperti berkomunikasi dengan para pembaca nanti.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: